little story to share

Pages

Senin, 30 Mei 2011

0

UANG


peranan uang dalam perekonomian.

peranan dan fungsi uang telah berkembang secara pesat, tanpa mengenal batas, ras, bangsa dan negara sehingga uang telah ikut memberikan andil yang penting dalam proses perkembangan peradaban manusia secara global. Aphra Behn, seorang dramawan abad ke-17 menulis dalam bukunya The Rover (1677) “Uang berbicara dalam bahasa yang dimengerti semua bangsa”.

Uang memang benda mati. Namun ternyata ia bisa mengendalikan hidup manusia. Ini bisa terjadi jika manusia lupa akan fungsi dan peran uang yang sesungguhnya. Dengan uang – yang notabene adalah benda mati – napas hidup perekonomian suatu negara dapat terlihat. Dengan uang manusia bisa membeli rasa “aman:, bersosialisasi, dihargai dan dihormati. Dengan uang manusia dapat mengaktualisasikan dirinya.

Secara umum, uang memiliki fungsi sebagai perantara untuk pertukaran barang dengan barang, juga untuk menghindarkan perdagangan dengan cara barter. Secara lebih rinci, fungsi uang dibedalan menjadi dua: fungsi asli dan fungsi turunan.

Fungsi asli uang ada tiga, yaitu sebagai alat tukar, sebagai satuan hitung, dan sebagai penyimpan nilai. Uang berfungsi sebagai alat tukar atau medium of exchange yang dapat mempermudah pertukaran. Orang yang akan melakukan pertukaran tidak perlu menukarkan dengan barang, tetapi cukup menggunakan uang sebagai alat tukar. Kesulitan-kesulitan pertukaran dengan cara barter dapat diatasi dengan pertukaran uang. Uang juga berfungsi sebagai satuan hitung (unit of account) karena uang dapat digunakan untuk menunjukan nilai berbagai macam barang/jasa yang diperjualbelikan, menunjukkan besarnya kekayaan, dan menghitung besar kecilnya pinjaman. Uang juga dipakai untuk menentukan harga barang/jasa (alat penunjuk harga). Sebagai alat satuan hitung, uang berperan untuk memperlancar pertukaran. Selain itu, uang berfungsi sebagai alat penyimpan nilai (valuta) karena dapat digunakan untuk mengalihkan daya beli dari masa sekarang ke masa mendatang.

Fungsi turunan itu antara lain uang sebagai alat pembayaran, sebagai alat pembayaran utang, sebagai alat penimbun atau pemindah kekayaan (modal), dan alat untuk meningkatkan status sosial.

Uang adalah salah satu topik utama dalam pembelajaran ekonomi dan finansial. Monetarisme adalah sebuah teori ekonomi yang kebanyakan membahas tentang permintaan dan penawaran uang.

Seandainya suatu perekonomian tidak menggunakan uang dalam transaksi ekonomi.

Seandainya dalam suatu perekonomian tidak lagi menggunakan uang (dalam bentuk apapun) maka akan terjadi kemunduran para perekonomian. Kita akan kembali melakukan barter sebagai satu – satunya cara untuk melakukan transaksi untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia

Barter adalah kegiatan tukar – menukar barang atau jasa yang terjadi tanpa perantara uang. Manusia pada kenyataannya tidak dapat memproduksi sendiri semua barang yang dibutuhkannya untuk memenuhi barang – barang yang dibutuhkan namun tidak dapat diproduksi sendiri, maka akan dicari seseorang yang mau menukarkan barang yang dimilikinya dengan barang lain yang orang tersebut butuhkan. Namun jarang sekali terjadi kesamaan kebutuhan dalam waktu yang bersamaan. Kesulitan – kesulitan ini sering terjadi dan akhirnya mendorong manusia untuk menemukan alternatif lain untuk melakukan transaksi.

1

TEORI MILTON FRIEDMAN


Profesor Milton Friedman dalalm Studies in The Quantity of Money (1955) mengembangkan teori kuantitas (klasik) sesudah keynes. Teori moneter keynes merupakan pengambangan lebih lanjut dari aspek uncertainty (ketidakpastian) dan expectations (harapan) dari teori Cambridge, sehingga timbuk teori permintaan uang untuk spekulasi.

Teori kuantitas modern dari Friedman bisa ditafsirkan sebagai pengembangan lebih lanjut dari aspek lain teori Cambridge, yaitu konsepsi bahwa teori permintaan uang hanyalah satu penerapan dari teori umum mengenai permintaan, sedang prinsip dasarnya sama yaitu pemelihan antara berbagai alternatif oleh konsumen dalam hal permintaan uang (pemilik kekayaan).

Friedman menganggap bahwa marginal rate of subtitution dari seuatu aktiva terhadap aktiva – aktiva lain menurun dengan makin besarnya jumlah aktiva tersebut yang dipegang. Artinya bila seseorang memegang terlalu banyak satu bentuk aktiva misalnya uang, maka hasil tambahan atau marginal returns dari uang akan menjadi lebih kecil daripada marginal returns aktiva – aktiva lainnya. Sedangkan bila ia mengurangi jumlah uang yang ia pegang dan menggantinya dengan aktiva – aktiva lain (misalnya obligas, saham, atau aktiva fisik seperti rumah, emas, dan sebagainya), maka orang tersebut akan memperoleh hasil total (total returns) yang lebih besar. Pemilik kekayaan akan memperoleh hasil total yang maksimum apabila hasil tambahan dari setiap bentuk aktiva yang dipegang adalah sama.

Friedman melakukan beberapa penyederhanaan dalam perumusan fungsi permintaan uang. Dia menganggap bahwa pemilik kekayaan bisa memilih lima bentuk kekayaan untuk dipegang :

a. Uang tunai (M)

Hasil / imbalan (return) untuk aktiva yang dipegang dalam bentuk uang tunai dapat berupa uang pula, misalnya bila uang disimpan dalam bentuk tabungan atau rekening giro. Uang tunai merupakan alat untuk menyimpan daya beli (store of Value) yang paling luwes dan alat untuk mempermudah tukar menukar (means of exchange) yang paling efektif.

b. Obligasi (B)

Hasil yang diperoleh dari aktiva dalam bentuk obligasi adalah pendapatan bunga (interest income) dan keuntungan kapital (capital gain). Interest income adalah hasil/imbalan yang diperoleh oleh pemegang obligasi setiap periode tertentu (setiap bulan atau tahun), yang jumlahnya tetap dan dicantumkan dalam obligasi. Dan besarnya hasil ini ditentukan oleh tingkat bunga yang berlaku (R). Sedangkan capital gain adalaha keuntungan (atau kerugia) yang bersu,ber dari naik turunnya harga pasar obligasi. Besar kecilnya capital gain ditentukan oleh perubahan tingkat bunga dari waktu ke waktu. Jika tingkat bunga (R) naik, maka harga obligasi turun dan jika tingkat bunga turun, maka harga obligasi naik.

c. Saham – Saham atau equitas (E)

Hasil yang diperoleh dari saham atau Equitas, dianggap oleh Friedman serupa dengan hasil dari obligasi, hanya saja diasumsikan bahwa hasil (dalalm satuan uang) untuk saham dipengaruhi jugu oleh perubahan tingkat harga.

d. Barang – barang fisik bukan manusia (G)

Hasil yang diperoleh dari aktiva fisik (G) ternyata merupakan kebalikan dari hasil uang tunai.apabila harga – harga naik, maka hasil yang diperoleh dari uang tunai turun, tetapi hasil dari aktiva fisik (G) naik. Sebaliknya bila harga – harga turun, haisl yang diperoleh dari aktiva uang tunai (M) naik, sedangkan hasil dari aktiva fisik (G) turun. Jadi hasil yang diperoleh dari uang tunai (M) maupun hasil dari aktiva fisik (G) dipengaruhi oleh presentase perubahan harga

e. Kekayaan Manusiawi / Human Capital (H)

Semakin besar aktiva manusiawi (H) yang dipegang relatif terhadap aktiva – aktiva lain, maka akan semakin besar permintaan uang tunai orang tersebut. Karena aktiva manusiawi tidak bisa diperjualbelikan seluwes aktiva – aktiva lain. Untuk mengimbangi kekurangan fleksibilitas dari struktur aktiva yang dipegangnya, ia akan cebdrunng memilih memegang lebih banyak uang tunai (M) daripada aktiva – aktiva lain.

0

TEORI CAMBRIDGE

Seperti teori Fisher dan teori – teori klasik lainnya, teori cambridge berdasarkan pada asumsi fungsi uang sebagai alat tukar umum (medium of exchange). Oleh karen itu, teori – teori klasik termasuk teori Fisher dan teori Cambridge melihat kebutuhan uang (permintaan uang) dari masyarakat sebagai kebutuhan akan alat likuid untuk tujuan transaksi.

Teori Cambridge menekankan faktor- faktor perilaku (pertimbangan untung rugi) yang menghubungkan antara permintaan uang seseorang dengan volume transaksi yang direncanakannya. Permintaan uang selain dipengaruhi oleh volume transaksi dan faktor kelembagaan, juga dipengaruhi oleh tingkat bunga, besar kekayaan warga masyarakat dan ramalan/harapan (expectation) dari para warga masyarakat mengenai masa mendatang. Faktor – faktor lain ini mempengaruhi permintaan uang seseorang dan dengan demikian juga mempengaruhi permintaan uang dari masyarakat secara keseluruhan

Teoritis cambridge menganggap bahwa jumlah kekayaan, volume transaksi dan pendapatan nasional mempunyai hubungan yang proporsional konstan satu sama lain, dan akhirnya mereka merumuskan teori uang mereka yang tidak jauh berbeda dengan teori Fisher. Teori Cambridge menganggap bahwa, ceteris paribus permintaan uang (Md) adalah proportional dengan tingkat pendapatan nasional

Md = k PY

Dimana Y adalah pendapatan nasional Riil

Penawaran uang (Ms) dianggap ditentukan oleh pemerintah. Dalam kondisi keseimbangan maka Ms = M d sehingga Ms = k. PY atau P = 1/k MsY.

Jadi ceteris paribus tingkat harga umum (P) berubah secara proporsional dengan perubahan volume uang yang beredar (Ms). Tidak banyak berbeda dengan teori Fisher, kecuali tambahan cetris paribus yang berarti faktor – faktor lain seperti tingkat pendapatan nasional Riil, tingkat bunga dan harapan adalah konstan. Teori Cambridge tidak menutup kemudian bahwa faktor – faktor seperti tingkat bunga dan harapan (expectations) berubah, meskipun dalam jangka pendek. Jadi kalau faktor – faktor ini berubah maka “k” pun akan berubah. Apabila tingkat bunga naik, ada kecendrungan masyarakat mengurangi uang yang ingin mereka pegang, maskipun volume transaksi yang mereka rencanakan tetap. Demikian juga faktor harapan akan mempengaruhi “k” dalam jangka pendek, apabila di masa datang diharapkan akan ada kenaikan tingkat bunga (penurunan harga surat berharga/obligasi), maka orang akakn cendrung untuk mengurangi jumlah surat berharga yang dipegangnya akan menambah jumlah uang tunai yang mereka pegang.

0

TEORI MONETARIS


Aliran monetaris pada prinsipnya menekankan bahwa perkembangan moneter merupakan unsur penting dalam perkembangan produksi, kesempatan kerja dan harga – harga. Pertumbuhan jumlah uang beredar merupakan unsur yang paling dapat diandalkan dalam perkembangan moneter dan bahwa perilaku otoritas moneter menentukan jumlah uang beredar.

Kelompok monetaris berasumsi bahwa mekanisme pasar di dalam perekonomian dapat berjalan secara otomatis sehingga harga – harga dapat segera menyesuaikan (naik atau turun) apabila terjadi perbedaan (lebih besat atau lebih kecil) antara permintaan dan penawaran pasar.

Kelompom monetaris berpendapat bahwa uang hanya berpengaruuh pada tingkat inflasi dan tidak pada pertumbuhan ekonomi. Implikasinya adalah bahwa kebijakan moneter tersebut perlu dilakukan dengan rules yang dibakukan dan diarahkan untuk mengendalikan inflasi. Kebijakan moneter tidak dapat dipergunakan secara aktif mempengaruhi kegiatan ekonomi riil, dalam arti dapat dilonggarkakn apabila sektor riil sedang lesu dan diketatkan apabila terjadi peningkatan kegiatan ekonomi secara berlebihan.

Tokoh aliran monetaris Milton Friedman menekankan bahwa perilaku dalam pertumbuhan jumlah uang beredar sangat mempengaruhi aktivitas – aktivotas ekonomi. Stok jumlah uang beredar dalam perekonomian akan menentukan laju inflasi dalam jangka panjang.

Ada keterkaitan antara perubahan dalam jumlah uang beredar dengan perubahan tingkat aktivitas ekonomi. Fluktuasi ekonomi yang terjadi menuruut pandangan Friedman lebih disebabkan oleh perubahan jumlah uang beredar, dan yakin bahwa gangguan moneter merupakan faktor penting yang menyebabkan perubahan – perubahan dalam tingkat aktivitas ekonomi. Ketidakstabilan laju pertumbuhan jumlah uang beredar akan tercermin pada berbagai aktivitas ekonomi.

Pemerintah perlu memperhatikan naik turunnya laju pertumbuhan uang beredar. Karena pergerakan laju pertumbuhan uang beredar mempunyai pengaruh penting terhadap jalannya perekonomian di masa depan. Laju pertumbuhan uang beredar yang tidak menentu akan menghasilkan laju pertumbuhan ekonomi yang tidak menentu pula. Secara umum laju pertumbuhan uang beredar yang tinggi akan menyebabkan terjadinya boom inflasi. Sedangkan laju pertumbuhan jumlah uang beredar yang rendah akan mendorong terjadinya resesi. Friedman menyarankan agar jumlah uang beredar tidak boleh bertambah cepat dari seharusnya. Pedoman moneter yang dianjurkan Friedman untuk mengatasi hal ini adalah bahwa jumlah uang beredar ditambah setiap tahunnya sebesar laju pertumbuhan ekonomi.